nontontv

Senin, 06 April 2009

ADA APA DENGAN SYAIKH MUHAMMAD HASSÂN??

KENAPA HARUS MEMUSUHI SYAIKH MUHAMMAD HASSÂN??

Transkrip Ceramah

Fadhîlatu asy-Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabî


Pertama : Kami telah mengenal Syaikh Muhammad Hassân semenjak 10 tahun yang lalu –ini bukan waktu yang singkat-. Kami telah menasehati beliau sebelum orang lain menasehatinya. Saya telah menasehati Muhammad Hassân pada tahun 2000 sampai-sampai ia menjadi murka kepadaku. Kami ketika itu sedang sarapan dan ia keluar meninggalkan sarapannya dalam keadaan marah. Akan tetapi hal ini tidak menghalangi kami untuk tetap terus menjalin persaudaraan (ukhuwwah) dan memberikan nasehat, dan tetap saling menasehati dan memberikan wasiat di dalam kebenaran dan kesabaran.

Muhammad Hassân 10 tahun yang lalu –baik kita kehendaki maupun tidak- bukanlah Muhammad Hassân yang sekarang ini. Program-program (dakwah) di televisi telah bermunculan dan beliau memiliki andil di dalam menyebarkan aqidah dan dakwah (salafiyah). Beliau memiliki pengaruh yang nyata pada seluruh negeri Islam, setidak-tidaknya di dalam memberikan hidayah (bayân wa irsyâd, bukan hidayah taufik, pen) terhadap manusia secara umum.

Sebagaimana telah kami utarakan, bahwa dakwah salafiyah itu bukanlah dakwah yang hanya memperingatkan dari Sayyid Quthb walaupun kami memperingatkan darinya. Dakwah salafiyah juga bukanlah dakwah yang hanya memperingatkan dari Ibnu Lâdin walaupun kami juga memperingatkan darinya. Bukan pula yang hanya memperingatkan dari aktivitas takfîr (pengkafiran) walaupun kami turut memperingatkan darinya. Namun, dakwah salafiyah itu adalah dakwah yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya. Dan yang terpenting adalah aqidah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

« كثرة الذنوب مع صحة التوحيد خير من فساد التوحيد مع قلة الذنوب »

Banyaknya dosa namun tauhidnya lurus lebih baik daripada tauhidnya rusak dengan dosa yang sedikit.”

Apa artinya? Artinya adalah bahwa dakwah kita ini adalah dakwah aqidah. Apabila beliau memiliki aqidah yang lurus maka inilah yang pokok…

Muhammad Hassân saat ini, beliau banyak mengisi di program-program (dakwah) di televisi dan Alloh pun menganugerahkan kepadanya semangat. Kami melihat… bahwa dakwah beliau adalah dakwah aqidah dan mengikat manusia dengan al-Qur`an dan as-Sunnah, mengutip ucapan para ulama seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimîn dan al-Albânî dan memuliakan mereka. Manakah yang lebih utama (harus kita lakukan) di dalam dakwah kita, membantu, menasehati dan mendekatinya ataukah kita rusak, hancurkan (kehormatannya), dan menvonisnya bid’ah dan sesat?!

Yang manakala dia bertaubat (dari kesalahannya) kita malah berkata kepadanya “taubatmu tertolak”!

Manakala dia menghadap, kita malah berkata padanya dengan membelakanginya!

Apakah ini ada maslahat syar’i-nya walaupun hanya sedikit saja?!

Muhammad Hassan ketika datang untuk kesekian kalinya, kami duduk bersama beliau, dan ketika itu hadir bersama kami saudara DR. Muhammad Mûsâ Nashr dan saudara DR. Bâsim al-Jawâbirah. Kami pun memberikan beberapa nasehat kepada beliau (Syaikh Muhammad Hassan). Terutama tentang sikap beliau terhadap Sayyid Quthb. Lantas beliau berkata kepadaku secara tegas : “Ketika saya membaca buku Anda, Haqqu Kalimah al-Imâm al-Albânî fî Sayyid Quthb, saya katakan, bahwa seakan-akan Anda menulisnya dengan lisanku. Semenjak saat itu-lah saya meniadakan semua penukilanku dari Sayyid Quthb di dalam semua buku-bukuku.”

Siapa yang berkata seperti ini?! Lantas apakah layak kita mengatakan kepadanya, “Anda pendusta!! Anda hanya mengada-ada dan mengatakan hal ini karena pura-pura (taqiyah) dan main-main saja. Kami tidak mau menerima taubat Anda, kembalilah Anda kepada kesesatan Anda yang sebelumnya!” Ataukah selayaknya kita mengatakan kepadanya, “Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan”, lalu kita memegang tangannya dan mendekatinya, dan moga-moga hal ini dapat menjadi pembuka (kebaikan), tidakkah ini adalah lebih utama.

Kemudian, selepas kepergianku, datang sebagian rekan (menginformasikan) bahwa ada sejumlah orang rendahan yang mengobarkan kekacauan dan melakukan perbincangan yang panjang mengenai kunjunganku ini, mereka membangun beberapa hal di atasnya (untuk menvonis) tanpa adanya nasehat dan tanpa melakukan pembicaraan –terhadap salah satu fihak dan tentang vonisnya-. Tatkala datang sebagian rekan dari golongan orang yang mengobarkan (fitnah) dunia tanpa bukti, tanpa ilmu, tanpa argumentasi yang nyata, tanpa nasehat dan tanpa ada sedikitpun cara kritik (yang ilmiah), maka kami pun menghubungi Muhammad Hassân pada pagi hari, namun tidak diangkat. Ketika sore hari kami dapat menghubunginya, kami bertanya kepada beliau yang singkatnya seperti ini : “Dinukil dari Anda ucapan-ucapan tertentu yang sebagian manusia menjadikannya sebagai bukti untuk menvonis Anda bid’ah, kami bermaksud mendengar jawaban Anda tentang hal ini. Apa sikap Anda terhadap Sayyid Quthb?” Syaikh Masyhur lah yang menanyakan ini seakan-akan beliau sedang menginvestigasi.

“Apa sikap Anda tentang pengkafiran terhadap penguasa?”

Dia (Syaikh Muhammad Hassan) menjawab : “Pengkafiran terhadap penguasa termasuk perbuatan khowârij, hal ini tidak boleh (hukumnya). Kami menganggap penguasa sebagai ulil amri dan kami menasehati mereka (dengan cara baik). Kami memohon kepada Alloh untuk memberikan hidayah-Nya kepada kami, Anda dan mereka (para penguasa), dan mendoakan mereka (dengan kebaikan).”

“Apa sikap Anda terhadap Sayyid Quthb?”

(Syaikh Muhammad Hassan) : “Sayyid Quthb bukanlah termasuk ulama. Beliau memiliki aqidah yang menyimpang, dan tidak boleh bagi penuntut ilmu menekuni buku-buku beliau.”

Apakah kita menginginkan lebih dari ini?

Beliau (Syaikh Muhammad Hassan) memiliki ucapan (yang memuji) Usâmah bin Lâdin pada 10 tahun yang lalu. Mereka (para penfitnah) itu senantiasa mengambil ucapannya ini sampai sekarang (untuk mendiskreditkan Syaikh Syaikh Muhammad Hassan). Sepuluh atau delapan tahun yang lalu (memang dia memuji Syaikh Muhammad Hassan). (Namun sekarang) dia berkata :

“Saya tidak mendukung pemikiran Usâmah bin Lâdin maupun al-Qaeda. Cukuplah apa yang mereka lakukan itu. Aktivitas mereka ini tidak memiliki dalil atau sunnah!”

“Apa pendapat Anda tentang aktivitas bom bunuh diri?”

(Syaikh Muhammad Hassan) : “Aktivitas bom bunuh diri yang berlangsung di negeri kaum muslimin termasuk kerusakan. Tidak boleh dan tidak sepatutnya (hal ini dilakukan), sebab hal ini termasuk membunuh diri sendiri.”

Apakah Anda menginginkan lebih dari ini?!!

Mereka (anehnya) mengatakan bahwa taubatnya ini tidak benar dan hanya main-main saja.

Wahai saudaraku, tidaklah (dikatakan) beriman salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia mencintai apa yang ada pada dirinya sendiri.

Apabila Anda berada di posisinya, apakah Anda akan mengatakan lebih banyak dari hal ini?

Wahai saudara-saudaraku, seorang pria yang berada di tempatnya, yang ditunggu-tunggu oleh orang yang mencintai dan membencinya, dari kalangan khusus dan masyarakat umum.

Kita saat ini berada di majelis hanya berlima. Kita terkadang berbicara dengan bahasa yang simple (sederhana), tentu saja ucapan kita ini lebih banyak dijaga dan lebih berhati-hati apabila kita di majelis dengan lima puluh orang.

Apabila (kita) sedang direkam, atau berada di Masjid, maka ucapan perlu lebih dijaga lagi. Apalagi jika di program televisi yang disaksikan oleh jutaan orang, baik orang yang mencintai maupun yang membenci, yang memusuhi maupun yang menyokong, orang yang menunggu-nunggu dan mencatat. Tidakkah jika pada saat itu saya tidak berbicara dengan teratur dan sistematis, bisa jadi ucapanku difahami (secara salah), diriku ditentang dan saya dilarang dari kebaikan ini.

Jadi, (setiap sesuatu) ada fasenya. Saya pernah mengetahui ucapan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn yang mengisyaratkan hal yang serupa dengan perkataan ini : “Bahwa manusia itu ada fasenya. Tidak boleh kita berinteraksi dengan manusia hanya menggunakan satu fase saja.”

Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di zaman beliau yang mulia pernah bersabda :

“لا تبدؤوا أهل الكتاب بالسلام وإذا رأيتموهم في طريق فاضطروهم إلى أضيقه “

“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada ahli kitab. Apabila kalian melihat mereka di jalan, maka desaklah mereka sampai menyingkir ke pinggir.”

Siapakah diantara kita yang bisa menerapkan hadits ini saat ini?!! Sama saja baik di negeri Barat maupun Timur!! Bahkan di negeri dua tanah suci yang mulia.

Jawabnya adalah tidak ada (yang bisa). Apa sebabnya?? Kami katakan, (hal ini disebabkan) perbedaan fase.

Saya katakan : apakah perbedaan fase hanya berlaku untuk hal itu saja? Ataukah juga berlaku untuk hal itu dan selainnya, baik berupa ucapan maupun perbuatan?!

Jadi, wajib bagi kita memperhatikan semua hal ini. Adapun menjadikan semua manusia itu seakan-akan mereka ini adalah alat salin, maka ini termasuk kezhaliman. Atau menjadikan dakwah salafiyah seakan-akan organisasi militer, kerjakan! Jangan kerjakan! Maka ini adalah penyelewengan dan perobahan.

Jadi, buah dari majelis tersebut adalah kebaikan yang banyak, dan beliau banyak kembali (bertaubat) kepada kebenaran. Sembari kami tetap memohon supaya Alloh menambah lebih. Akan tetapi, kami berkeinginan untuk menjadi penolong bagi saudara-saudara kami dari syaithan, bukannya malah kami menjadi penolong bagi syaithan terhadap saudara-saudara kami.

Dakwah salafiyah itu adalah dakwah yang mengeluarkan manusia dari kegelelapan menuju kepada cahaya.

Sumber : http://almenhaj.net

التجريح والتعديل والتبديع
والشيخ محمد حسان

أولا: معرفتنا بالشيخ محمد حسان من عشر سنوات -ليست قريبة- ومناصحتنا له قبل أن يناصحه غيرنا، أنا ناصحت محمد حسان سنة 2000 حتى غضب مني ، وكنا على إفطار وخرج مغاضباً من افطاره ، ولكن هذا لم يمنعنا من استمرار الاخوة والنصيحة ولم يمنعنا من استمرار التناصح ؛والتواصي بالحق والتواصي بالصبر .

محمد حسان قبل عشر سنوات - شئنا أم أبينا - ليس محمد حسان اليوم ، وقد فتحت الفضائيات وله جهود في نشر العقيدة والدعوة وله تأثير واضح في كل البلاد الاسلامية على الاقل في باب هداية عامة الناس ، وكما قلنا الدعوة السلفية ليس فقط دعوة تحذير من سيد قطب ، وإن كنا نحذر من سيد قطب ، وليس الدعوة السلفية هي دعوة التحذير من ابن لادن فقط وإن كنا نحذر من ابن لادن ، وليست التحذير من التكفير فقط ،وإن كنا نخذر من التكفير . الدعوة السلفية دعوة اخراج الناس من الظلمات إلى النور، وأهم ذلك العقيدة ، عندما يقول شيخ الاسلام ابن تيمية :

« كثرة الذنوب مع صحة التوحيد خير من فساد التوحيد مع قلة الذنوب »

معناه ماذا ؟ أن دعوتنا دعوة عقيدة ، فإن كانت عنده عقيدة صحيحة فهذا الأصل ، …..

محمد حسان -الآن- وقد فتحت له الفضائيات ورزقه الله نشاطاً ، ونرى … دعوته بالعقيدة وربط الناس بالكتاب والسنة ، والنقل عن العلماء ؛ كابن باز وابن عثيمين والالباني؛ وتعظيمهم ، أيهما أولى بدعوتنا أن نآزره وأن نناصحه وأن نقربه ، أم أن نكسره وان نهزمه وأن نبدعه وان نضلله ؟! ، وإذا تاب أن نقول له توبتك مرفوضة ! وإذا أقبل نقول له أدبر ! هل هذا من المصلحة الشرعية في شيء؟!

فمحمد حسان لما جاء في هذه المرة ، جلست معه - وكان موجوداً معنا أخونا الدكتور محمد موسى نصر وأخونا الدكتور باسم الجوابرة - ونصحته عدة نصائح ، أهمها موقفه من سيد قطب . فقال لي بالحرف الواحد : « لما قرات كتابك حق كلمة الامام الالباني في سيد قطب» ، قلت :« كأنك تكتب على لساني ، فمنذ ذلك الوقت نفيت كل نقولي عن سيد قطب في أي كتاب من الكتب » .

فمن قال هذا ، أنقول له انت كذاب ؟؟!! وتفتري وتقول هذا تقية وتلاعباً ولا يجوز ان نقبل منك التوبة وارجع إلى ضلالك القديم .

أم نقول له جزاك الله خيراً ونأخذ بيده ونقربه لعل هذا يكون فاتحة لما هو أولى .

ثم بعد أن سافرت جاء بعض الاخوة وقد أثار بعض الهمج فوضى وكلاما طويلا عن هذه الزيارة وبنى عليها أموراً دون أن ينصح، ودون أن يتكلم -أنت الخصم والحكم- فلما جاء بعض الاخوة من طرف هذا الانسان الذي أثار الدنيا بدون بينة ودون علم ودون بصيرة ودون نصيحة ودون أدنى وجه من وجوه النقد ، اتصلنا بمحمد حسان -في الصباح - فلم يرد، وإذ به يتصل بالمساء قلنا له بعبارة قصيرة : ينقل عنك أقوال معينة جعلت بعض الناس يبدعونك ، فنحن نريد ان نسمع جوابك.

فما موقفك من سيد قطب - الشيخ مشهور كان يسأله كأنه محقق-

ما موقفكم من تكفير الحكام ؟

قال: تكفير الحكام فعل الخوارج ولا يجوز ونحن نعتبرهم أولياء أمور ونناصحهم ونسأل الله لنا ولكم ولهم الهداية والدعاء لهم.

ما موقفكم من سيد قطب ؟

سيد قطب ليس من أهل العلم وله عقائد ضالة ولا يجوز لطلبة العلم أن يقتنوا كتبه

ماذا نريد أكثر من هذا ؟

له كلمة باسامة بن لادن قبل عشر سنوات وما زالوا يؤاخذنه بها للآن .

قبل عشر سنوات أو ثمان سنوات

قال : أنا لا أؤيد أفكار أسامة بن لادن ولا القاعدة ، ويكفي هؤلاء أنهم فعلوا وفعلوا ، وأفعالهم بلا دليل أو سنة

ما رأيك بالعمليات الانتحارية ؟؟

العمليات الانتحارية التي تجري في بلاد المسلمين فيها من المفاسد ولا يجوز ولا ينبغي وهذه قتل للنفس .

ماذا تريد أكثر من ذلك ؟؟!!

قالوا هذه التوبة غير صحيحة توبة يتلاعب بها

يا اخي لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه

لو كنت مكانه ماذا تقول اكثر من ذلك ؟

يا اخواني : رجل في موضعه يتربص به المحب والشانئ والخاص والعام.

فنحن الآن في المجلس خمسة ، قد نتكلم بسهولة ، فهل يكون كلامنا نفس الكلام ام متحفظ أكثر فيما إذا كان المجلس خمسين .

وإذا كان في تسجيل ، أو إذا كان في مسجد سيكون بتحفظ أكثر و أكثر ، وإذا كان في فضائية يحضرها الملايين من المحبين والمبغضين والشانئيين والمؤيديين والمتربصين والرسميين ألا يكون هنالك عبارة أعرف اذا تكلمت بها على نسق قد تفهم عني وقد يؤلب علي وقد امنع من هذا الخير

إذن هنالك ظروف ، وانا رأين كلمة للشيخ ابن عثيمين فيها الاشارة الى مثل هذا القول :أن الناس لهم ظروف ، فلا يجوز ان تعامل الناس على ظرف واحد .

فالرسول صلى الله عليه وسلم في زمانه الشريف كان يقول : “لا تبدؤوا أهل الكتاب بالسلام وإذا رأيتموهم في طريق فاضطروهم إلى أضيقه ” من منا يستطيع أن يطبق هذا الحديث اليوم ؟!!سواء في بلاد الغرب او في بلاد الشرق !!حتى في بلاد الحرمين الشريفين .

الجواب : لا

فما السبب ؟؟

نقول اختلاف الظروف

أقول : أأختلاف الظروف في هذه فقط ؟ ام فيها وفي غيرها من القول أو الفعل !؟

إذن يجب ان نراعي هذه الأمور ، أما ان نأخذ الناس كلهم كأنهم آلة ناسخة هذا ظلم ان نأخذ الدعوة السلفية كانها مؤسسة عسكرية .افعل ولا تفعل هذا تحريف وتغيير

إذن ما حصل في الجلسة هو خير كثير وتراجع إلى كثير من الحق واملنا بالله بالمزيد لكن نريد ان نكون اعوانا لاخواننا على الشيطان لا نريد ان نكون اعوانا للشيطان على اخواننا

والدعوة السلفية هي دعوة اخراج الناس من الظلمات الى النور

PANDANGAN AL-MUHADDITS ‘ABDULLÂH AL-‘UBAILÂN TENTANG JUM’IYAH IHYÂ` AT-TURÔTS KUWAIT

Fadhîlatu asy-Syaikh, Assalâmu’alaykum Warohmatullâhi Wabarokâtuh

Alloh tahu bahwa saya benar-benar mencintai Anda. Akan tetapi, di sela-sela kunjunganku hari ini di situs Anda, ada sebuah rekaman yang berjudul “ad-Da’wah al-Islâmiyah Wâqi’ wa Thumûhât” (Dakwah Islam antara Realita dan Angan-Angan). Ketika mendengarkan awal kajian ini, saya dapati bahwa ceramah ini merupakan jawaban undangan dari Jum’iyah Ihyâ` at-Turôts, padahal sejauh pengetahuan saya, bahwa jum’iyah ini adalah jum’iyah hizbiyah (lembaga sektarianisme/partisan) yang menyokong kaum hizbiyyun (partisan). Saya mengharap syaikh yang mulia sudi menjelaskan hal yang telah membuatku menjadi bingung ini. Sebab, saya dengar bukan hanya seorang ulama salafiyin saja yang telah menvonis bid’ah jum’iyah ini, seperti : Syaikh Rabî’ al-Madkhalî, Syaikh Muqbil al-Wâdi’î, Syaikh ‘Ubaid al-Jâbirî dan Syaikh Falâh Ismâ’îl Mandakâr dan masih banyak lagi selain mereka.

Wassalâmu’alaikum.

Jawaban :

Perkara ini adalah masalah ijtihâdîyah yang diperselisihkan para ulama. Masyaikh kibâr (senior) seperti Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd, Syaikh Shâlih al-Fauzân dan selain mereka, masih menganggap jum’iyah ini sebagai jum’iyah salafiyah. Bahkan yang mengarahkanku untuk memberikan ceramah dan pelajaran (di kegiatan) yang diadakan oleh jum’iyah di Kuwait ini adalah Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz ketika beliau menjabat sebagai penanggung jawab urusan dakwah di Kerajaan, dan saya saat itu adalah mudîr (direktur) Markaz ad-Da’wah (Islamic Center) di Ha`il. Saya telah pergi (memberikan ceramah) berulang kali dan saya tidak melihat melainkan hanya kebaikan.

Adapun adanya sebagian du’at yang bekerjasama dengan jum’iyah ini dan keadaan mereka diperbincangkan, maka hal ini juga ditemukan di (negeri) kita ini, adanya orang-orang yang berafiliasi dengan sejumlah institusi ilmiah seperti universitas atau perhimpunan dakwah, sedangkan mereka tidak berada di atas metodologi para ulama senior. Kendati demikian, kita tidak mengatakan bahwa Kerajaan (Arab Saudi) mengadopsi manhaj Ikhwânî dan keluar dari metodologi salafiyah.

Jadi, hal ini termasuk perkara ijtihadiyah (debatable) yang hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalami dan sudah berpengalaman dengan dakwah, serta mengetahui metodologi syariah di dalam menimbang mashlahat dan mafsadat. Bukanlah pemahaman (fiqih) itu, Anda hanya mengetahui keburukan dan kebaikan saja, namun pemahaman itu adalah Anda dapat mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan yang terburuk dari dua keburukan.

Sampai detik ini, saya belum pernah tahu bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts mengadopsi atau menyeru kepada selain dakwah salafiyah di dalam cetakan (buku-bukunya) atau publikasi-publikasinya. Kemudian, hendaklah difahami bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts ini tidaklah beraktivitas secara independen, namun ia termasuk jum’iyah al-khairiyah (lembaga sosial) di negara Kuwait. Hal ini perlu untuk direnungkan. Aktivitas dan upayanya di dalam membendung kristenisasi dan menyebarkan tauhid dan sunnah di puluhan negeri di Asia, Afrika dan selainnya, tidak ada yang mengingkarinya kecuali oleh orang-orang yang menentang.

Semoga Alloh memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.

Sumber : http://www.obailan.net/news.php?action=show&id=370

سؤال عن جمعية احياء التراث وجوابه للشيخ العبيلان حفظه الله

فضيلة الشيخ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
يعلم الله إني أحبكم في الله ولكن ومن خلال زيارتي اليوم لموقعكم وجد على ماده وهي بعنوان (الدعوة الإسلامية واقع وطموحات) ومن خلال استماعي لبداية هذه المحاضرة وجدت انها تلبية لدعوه جاءتكم من جمعية إحياء التراث وقد عرفة هذه الجمعية أنها حزبيه ومناصره للحزبيين فأرجو من فضيلتكم بياهذا الأمر الذي التبس على لأني سمعت من غير واحد من العلماء السلفيين أنهم بدعوا هذه الجمعيه ومن المشايخ الذين بدعوها: الشيخ ربيع المدخلي وكذالك الشيخ مقبل الوادعي وكذالك الشيخ عبيد الجابر وكذالك الشيخ فلاح إسماعيل مندكار وغيرهم كثير.
والسلام عليكم

الجواب
هذه من الأمور الإجتهادية التي يختلف فيها اهل العلم فالمشايخه الكبار مثل سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز والشيخ محمد العثيمين والشيخ عبدالمحسن العباد والشيخ صالح الفوزان وغيرهم يرونها جمعية سلفية والذي وجهني لإلقاء المحاضرات والدروس التي تنظمها الجمعية في الكويت هو سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز حين كان هو المسؤل عن الدعوة في المملكة وكنت حينها مديرا لمركز الدعوة في حائل وذهبت عدة مرات ولم أرى إلا الخير وأما وجود بعض الدعاة المتعاونين مع الجمعية وعليهم ملاحظات فهذا يوجد عندنا ايضا من ينتسبون الى بعض الجهات العلمية كالجامعات أو الجمعيات الدعوية وهم ليسوا على طريقة كبار العلماء ومع ذلك لم نقل ان الدولة تبنت المنهج الإخواني وخرجت عن الطريقة السلفية ، فهذه من الأمور الإجتهادية التي لايدركها إلا من خاض غمار الدعوة وعرف طريقة الشريعة في المصالح والمفاسد ، فليس الفقه أن تعلم الشر والخير ولكن أن تعلم خير الخيرين وشر الشرين ، وإلى ساعتي هذه لاأعلم أن جمعية إحياء التراث تبنت أودعت من خلال مطبوعاتها ونشراتها غير الدعوة السلفية ، ثم ينبغي أن يعلم أن جمعية إحياء التراث لاتعمل مستقلة بل هي ضمن الجمعيات الخيرية في دولة الكويت ،وهذا أمر ينبغي مراعاته ، ونشاطها وجهودها في مكافحة التنصير ونشر التوحيدو السنة في عشرات الدول في اسيا وافريقيا وغيرها لاينكرة إلا جاحد وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه

PANDANGAN AL-MUHADDITS ‘ABDULLÂH AL-‘UBAILÂN TENTANG JUM’IYAH IHYÂ` AT-TURÔTS KUWAIT


Fadhîlatu asy-Syaikh, Assalâmu’alaykum Warohmatullâhi Wabarokâtuh Alloh tahu bahwa saya benar-benar mencintai Anda. Akan tetapi, di sela-sela kunjunganku hari ini di situs Anda, ada sebuah rekaman yang berjudul “ad-Da’wah al-Islâmiyah Wâqi’ wa Thumûhât” (Dakwah Islam antara Realita dan Angan-Angan). Ketika mendengarkan awal kajian ini, saya dapati bahwa ceramah ini merupakan jawaban undangan dari Jum’iyah Ihyâ` at-Turôts, padahal sejauh pengetahuan saya, bahwa jum’iyah ini adalah jum’iyah hizbiyah (lembaga sektarianisme/partisan) yang menyokong kaum hizbiyyun (partisan). Saya mengharap syaikh yang mulia sudi menjelaskan hal yang telah membuatku menjadi bingung ini. Sebab, saya dengar bukan hanya seorang ulama salafiyin saja yang telah menvonis bid’ah jum’iyah ini, seperti : Syaikh Rabî’ al-Madkhalî, Syaikh Muqbil al-Wâdi’î, Syaikh ‘Ubaid al-Jâbirî dan Syaikh Falâh Ismâ’îl Mandakâr dan masih banyak lagi selain mereka. Wassalâmu’alaikum. Jawaban : Perkara ini adalah masalah ijtihâdîyah yang diperselisihkan para ulama. Masyaikh kibâr (senior) seperti Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd, Syaikh Shâlih al-Fauzân dan selain mereka, masih menganggap jum’iyah ini sebagai jum’iyah salafiyah. Bahkan yang mengarahkanku untuk memberikan ceramah dan pelajaran (di kegiatan) yang diadakan oleh jum’iyah di Kuwait ini adalah Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz ketika beliau menjabat sebagai penanggung jawab urusan dakwah di Kerajaan, dan saya saat itu adalah mudîr (direktur) Markaz ad-Da’wah (Islamic Center) di Ha`il. Saya telah pergi (memberikan ceramah) berulang kali dan saya tidak melihat melainkan hanya kebaikan. Adapun adanya sebagian du’at yang bekerjasama dengan jum’iyah ini dan keadaan mereka diperbincangkan, maka hal ini juga ditemukan di (negeri) kita ini, adanya orang-orang yang berafiliasi dengan sejumlah institusi ilmiah seperti universitas atau perhimpunan dakwah, sedangkan mereka tidak berada di atas metodologi para ulama senior. Kendati demikian, kita tidak mengatakan bahwa Kerajaan (Arab Saudi) mengadopsi manhaj Ikhwânî dan keluar dari metodologi salafiyah. Jadi, hal ini termasuk perkara ijtihadiyah (debatable) yang hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalami dan sudah berpengalaman dengan dakwah, serta mengetahui metodologi syariah di dalam menimbang mashlahat dan mafsadat. Bukanlah pemahaman (fiqih) itu, Anda hanya mengetahui keburukan dan kebaikan saja, namun pemahaman itu adalah Anda dapat mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan yang terburuk dari dua keburukan. Sampai detik ini, saya belum pernah tahu bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts mengadopsi atau menyeru kepada selain dakwah salafiyah di dalam cetakan (buku-bukunya) atau publikasi-publikasinya. Kemudian, hendaklah difahami bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts ini tidaklah beraktivitas secara independen, namun ia termasuk jum’iyah al-khairiyah (lembaga sosial) di negara Kuwait. Hal ini perlu untuk direnungkan. Aktivitas dan upayanya di dalam membendung kristenisasi dan menyebarkan tauhid dan sunnah di puluhan negeri di Asia, Afrika dan selainnya, tidak ada yang mengingkarinya kecuali oleh orang-orang yang menentang. Semoga Alloh memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada yang dicintai dan diridhai-Nya. Sumber : http://www.obailan.net/news.php?action=show&id=370 سؤال عن جمعية احياء التراث وجوابه للشيخ العبيلان حفظه الله فضيلة الشيخ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته يعلم الله إني أحبكم في الله ولكن ومن خلال زيارتي اليوم لموقعكم وجد على ماده وهي بعنوان (الدعوة الإسلامية واقع وطموحات) ومن خلال استماعي لبداية هذه المحاضرة وجدت انها تلبية لدعوه جاءتكم من جمعية إحياء التراث وقد عرفة هذه الجمعية أنها حزبيه ومناصره للحزبيين فأرجو من فضيلتكم بياهذا الأمر الذي التبس على لأني سمعت من غير واحد من العلماء السلفيين أنهم بدعوا هذه الجمعيه ومن المشايخ الذين بدعوها: الشيخ ربيع المدخلي وكذالك الشيخ مقبل الوادعي وكذالك الشيخ عبيد الجابر وكذالك الشيخ فلاح إسماعيل مندكار وغيرهم كثير. والسلام عليكم الجواب هذه من الأمور الإجتهادية التي يختلف فيها اهل العلم فالمشايخه الكبار مثل سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز والشيخ محمد العثيمين والشيخ عبدالمحسن العباد والشيخ صالح الفوزان وغيرهم يرونها جمعية سلفية والذي وجهني لإلقاء المحاضرات والدروس التي تنظمها الجمعية في الكويت هو سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز حين كان هو المسؤل عن الدعوة في المملكة وكنت حينها مديرا لمركز الدعوة في حائل وذهبت عدة مرات ولم أرى إلا الخير وأما وجود بعض الدعاة المتعاونين مع الجمعية وعليهم ملاحظات فهذا يوجد عندنا ايضا من ينتسبون الى بعض الجهات العلمية كالجامعات أو الجمعيات الدعوية وهم ليسوا على طريقة كبار العلماء ومع ذلك لم نقل ان الدولة تبنت المنهج الإخواني وخرجت عن الطريقة السلفية ، فهذه من الأمور الإجتهادية التي لايدركها إلا من خاض غمار الدعوة وعرف طريقة الشريعة في المصالح والمفاسد ، فليس الفقه أن تعلم الشر والخير ولكن أن تعلم خير الخيرين وشر الشرين ، وإلى ساعتي هذه لاأعلم أن جمعية إحياء التراث تبنت أودعت من خلال مطبوعاتها ونشراتها غير الدعوة السلفية ، ثم ينبغي أن يعلم أن جمعية إحياء التراث لاتعمل مستقلة بل هي ضمن الجمعيات الخيرية في دولة الكويت ،وهذا أمر ينبغي مراعاته ، ونشاطها وجهودها في مكافحة التنصير ونشر التوحيدو السنة في عشرات الدول في اسيا وافريقيا وغيرها لاينكرة إلا جاحد وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه

Sabtu, 17 Januari 2009

Bersikap keras kepada ahlul bid'ah bukan berati loyal

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terus senantiasa memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan ahlul bid’ah. Tanggapan dan tuduhan jelek terus dilancarkan oleh ahlul bid’ah, karena dada mereka terasa sesak tatkala segala kejahatan dan kesesatan mereka dibongkar oleh ahlus sunnah. Mereka merasa “keberatan” atas “sikap keras” ahlus sunnah atas segala penyimpangan yang mereka lakukan.
Mereka menyatakan : “Kenapa kalian justeru bersikap keras terhadap saudara sendiri, sementara kalian diam atas kejahatan Amerika dan sekutunya?!!.” Tak ayal lagi, tuduhan miring pun mereka lontarkan : “kalian telah menyenangkan musuh-musuh Islam, kalian telah loyal kepada para thaghut ….dst.
Mengajak umat kepada al Haq, dan membantah kebatilan dan para pembawanya termasuk prinsip terpenting ahlus sunnah wal jama’ah. Prinsip ini termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman tentang Nabi-Nya

الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة و الإنجيل يأمرهم بالمعروف و ينهاهم عن المنكر و يحل لهم الطيبات و يحرم عليهم الخبائث

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang dari munkar, dan menghalalkan bagi mreka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” [Al A’raf : 157]


Umat ini pun sebagai umat terbaik, ketika mereka merealisasikan prinsip ini, sebagaimana Allah tegaskan:


كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف و تنهون عن المنكر و تؤمنون بالله

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari munkar dan beriman kepada Allah.” [Ali ‘Imran : 110]

Ini merupakan akhlaq mereka dengan sesamanya:

و المؤمنون و المؤمنات بعضهم أوليآء بعض، يأمرون بالمعروف و ينهون عن المنك

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” [At Taubah : 71]

Ketika prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini mulai ditinggal, maka itu merupakan salah satu sebab kebinasaan suatu kaum. Allah menceritakan tentang sebab kebinasaan Bani Israil, salah satunya adalah:

كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه، لبئس ما كانوا يفعلون

Mereka itu satu sama lain tidak mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [Al Ma-idah : 79

Bahkan mencegah saudara sesama muslim dari perbuatan salah merupakan bukti wala’ seorang muslim terhadap saudaranya, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya di surat At Taubah:71 di atas.

Rasulullah bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا. قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْمًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ : تَأْخُذْ فَوْقَ يَدَيْهِ

Tolonglah saudaramu yang zhalim maupun yang terzhalimi.

Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jelas kami akan menolong yang terzhalimi, tapi bagaimana kami akan menolong orang yang zhalim?

Rasulullah menjawab: yaitu (dengan cara) kamu tahan tangannya (agar tidak berbuat zhalim).” [HR. Al Bukhari]


Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan : “Menganjurkan manusia agar berpegang dan mengikuti As Sunnah serta mencegah jangan sampai bid’ah muncul dan tersebar, termasuk amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan ini merupakan amal shalih yang paling mulia, sehingga seharusnya betul-betul dijalankan dengan penuh keikhlashan mengharapkan wajah Allah ” [Minhajus Sunnah V/253].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Da’i yang mengajak kepada satu bid’ah berhak menerima hukuman, menurut kesepakatan kaum muslimin. Hukuman itu terkadang berupa hukuman mati atau yang lebih ringan, sebagaimana para salafush shalih membunuh Jahm bin Sufyan, Ja’d bin Dirham, Ghailan Al Qadari, dan lain-lain. Seandainya dia dianggap tidak berhak dihukum atau tidak mungkin dihukum seperti itu, maka menjadi sebuah keharusan untuk diterangkan kebid’ahannya dan men-tahdzir umat supaya menjauhinya. Karena sesungguhnya hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” [Majmu’ul Fatawa XXXV/414]

Membantah orang-orang munafiq dan para pembawa kebatilan termasuk bagian daripada jihad fisabilillah. Allah dengan tegas memerintahkan kepada Nabi-Nya:

يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم، و مأواهم النار و بئس المصير

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal [At Taubah:73]

Mujahid itu tidak hanya mereka yang terjun di medan tempur dengan mengangkat senjata. Para pembela agama dari kerusakan, penyimpangan, dan penyelewengan juga termasuk mujahid. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang mujahid besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Orang yang membantah ahli bid’ah adalah mujahid.”

Al Imam Al Mujahid Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Jihad melawan munafiqin ini lebih berat daripada jihad melawan orang-orang kafir. Jihad ini merupakan jihadnya orang-orang khusus dari umat ini, yaitu para ‘ulama pewaris para nabi. Maka orang-orang yang tampil menegakkan jihad jenis ini hanyalah segelintir orang saja, demikian juga orang yang mau membantu mereka hanya sedikit saja. Namun demikian, meskipun secara jumlah mereka itu sedikit, mereka sangat besar kedudukannya di sisi Allah.” –sekian dari Ibnul Qayyim-

Yahya bin Yahya, guru Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim, : MEMBELA SUNNAH LEBIH UTAMA DARIPADA JIHAD (perang melawang orang kafir!) [Majmu’ Al Fatawa IV/13].
Al Imam Al Harawi meriwayatkan dengan sanad beliau dari Nashr bin Zakariya ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkata: “Saya mendengar Yahya bin Yahya berkata: “Membela Sunnah lebih utama daripada jihad fi sabilillah!” Muhammad bin Yahya berkata (keheranan): “Seorang mujahid telah menyerahkan hartanya, mengerahkan kekuatannya dan berjihad di jalan Allah, lantas (bagaimana mungkin) pembela sunnah itu lebih utama daripadanya?”

“Benar, bahkan (pembela sunnah) jauh lebih utama!” jawab Yahya [Dzammul Kalam lembaran A- 111].

Al Humaidi, salah seorang guru Al Imam Al Bukhari, berkata : Demi Allah, aku lebih suka menyerang orang-orang yang menolak hadits Rasullullah daripada menyerang sebanyak itu tentara At Turk” [diriwayatkan oleh Al Harwi melalui sanadnya sendiri dalam Kitab Dzammul Kalam (288-Syibl)], Maksud tentara At Turk di sini adalah tentara Kafir.

Saya menemukan pernyataan serupa dari ‘ulama yang lebih tinggi tingkatannya daripada Al Humaidi, yaitu Ashim bin Syumaikh bahwa dia bercerita: “Saya bertemu dengan Abu Sa’id Al Khudri saat beliau sudah lanjut usia dan tangan beliau sudah gemetaran. Beliau berkata: “Memerangi mereka (yaitu Khawarij) menurutku lebih utama daripada memerangi tentara (kafir) Al Atrak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (XV/303) dan Ahmad (III/33)]

Oleh sebab itu ketika membicarakan hadits Abu Sa’id tentang perintah memerangi Khawarij, Ibnu Hubairah berkata : “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa memerangi kaum Khawarij lebih utama daripada memerangi kaum musyrik. Hikmahnya, menumpas kaum Khawarij ini adalah untuk menjaga eksistensi Islam. Sementara memerangi ahli syirik adalah untuk mendatangkan keuntungan bagi Islam. Menjaga keutuhan dan eksistensi tentu lebih utama” [Fathul Baari karya Ibnu Hajar (XII/410]

Abu ‘Ubaid al Qasim bin Sallam berkata: “Orang yang memegang sunnah ibarat memegang bara api. MENURUTKU SEKARANG INI MEMPERTAHANKAN SUNNAH ITU LEBIH UTAMA DARIPADA MENGAYUNKAN PEDANG BERPERANG FIE SABILILLAH” [Tarikh Baghdad (XII/410)]

Ibnul Qayyim berkata : “JIHAD DENGAN HUJJAH DAN LISAN LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA JIHAD DENGAN PEDANG DAN TOMBAK” [Syarah Qasidah An Nuniyah oleh Muhammad Khalil Haras (I/12) dan silahkan lihat juga Al Jawabus Shahih oleh Ibnu Taimiyah (I/237)]

Ibnul Qayyim juga berkata: “Jihad dengan ilmu adalah jihadnya para nabi dan rasul-Nya, orang- orang pilihan dari kalangan hamba-Nya yang mendapat karunia taufiq dan hidayah” [lihat muqaddimah Al Kafiyah Asy Syafiyah hal. 19]

Tapi kenapa menggunakan kata-kata yang keras dan pedas terhadap saudara sendiri?

Ketahuilah, bahwa pada asalnya amar ma’ruf nahi munkar itu dilakukan dengan halus dan lemah lembut. Allah berfirman:

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة و الموعظة الحسنة و جادلهم بالتي هي أحسن

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [An Nahl : 125]

Allah juga berfirman ketika mengutus Nabi Musa:

اذهبا إلى فرعون إنه طغى  فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى


“Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaha : 43-44]

Juga sabda Rasulullah dalam hadits yang dibawakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَ لاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ


“Sesungguhnya keleahlembutan itu tidaklah dia berada pada sesuatu kecuali pasti akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.” [HR. Muslim 2594]

Namun perlu juga kita pahami di sini,bahwa kelembutan bukan berarti kita harus diam terhadap kemungkaran dan kebid’ahan. Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Tidak diragukan bahwa syari’at Islam ini adalah syari’at yang sempurna, datang dengan membawa tahdzir (peringatan) terhadap berbagai sikap ghuluw (melampaui batas) dalam urusan agama. Memerintahkan da’wah ke jalan yang haq dengan hikmah, nasehat yang baik, dan debat dengan cara yang lebih baik. Akan tetapi ternyata syari’at ini sama sekali tidak melupakan sikap keras dan tegas yang diletakkan pada tempatnya, di mana lemah lembut dan debat tidak lagi berguna. Sebagaimana firman Allah :

يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم، و مأواهم النار و بئس المصير 

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal [At Taubah : 73]

…. –sekian Asy Syaikh bin Baz—

Bahkan terkadang seorang mu’min akan lebih keras dan tegas mengingkari kemungkaran yang ada pada saudaranya daripada terhadap orang kafir. Kita lihat bagaimana lembutnya Nabiyullah Musa mengajak Fir’aun kepada tauhid, tetapi keras terhadap saudaranya Nabiyullah Harun . Allah berfirman tentang itu:

و ألقى الألواح و أخذ برأس أخيه يجره إليه

“Dan Musa pun melemparkan luh-luh (lembaran-lembaran Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menarik kearahnya.” [Al A’raf : 150]
Apakah kita akan menganggap Nabi Musa tidak memiliki sikap wala’ terhadap saudaranya Nabiyullah Harun karena berlemah lembut terhadap thaghut besar tapi kaku dan kasar terhadap saudaranya sendiri?

Bandingkan pula dengan sikap Rasulullah yang menegur shahabatnya sendiri dengan ucapan yang sangat keras hanya karena masalah “sepele” saja.

Di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah dia mengisahkan bahwa Mu’adz biasa shalat bersama Rasulullah , kemudian dia kembali ke kaumnya dan shalat mengimami mereka. (Suatu hari) dia mengimami dengan membaca Surat Al Baqarah. Karena bacaan yang terlalu panjang itu, ada seseorang yang shalat sendiri dengan memendekkan shalat, kemudian langsung pergi. Berita ini sampai kepada Mu’adz, maka dia mencap orang tersebut sebagai munafiq. Kemudian orang itu pun mengetahui hal itu, maka dia pun datang kepada Rasulullah dan mengadukan hal itu: “Wahai Rasulullah, kami ini kaum yang bekerja sendiri untuk mengairi tanaman kami. Dan Mu’adz shalat bersama kami tadi malam dengan membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya shalat sendiri lebih ringkas. Lantas dia menuduh saya munafiq.”

Mendengar itu, Rasulullah pun marah dan berkata:

يا معاذ أفتان أنت؟ (ثلاثا). اقرأ : ] و الشمس و ضحاها [ و ] سبح اسم ربك الأعلى [ ونحوها

“Wahai Mu’adz, apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! , apa kau ini tukang fitnah! . Bacalah (dalam shalatmu) surat “Wasy Syamsi Wadhuha-ha” dan surat “Sabbihisma Rabikal A’la” atau yang semisalnya.”

Rasulullah marah besar terhadap Mu’adz atas peristiwa tersebut, padahal beliau pernah berkata kepada Mu’adz bahwa beliau mencintainya. Apakah kita kemudian memprotes Rasulullah karena sikap beliau yang “kasar” terhadap shahabatnya sendiri?

Demikianlah, terkadang seorang muslim itu lebih keras pengingkarannya terhadap kebatilan yang dilakukan oleh saudaranya sesama muslim. Itu justru sebagai bukti kecintaannya terhadap sesama muslim, karena dia ingin saudara terselamatkan dari adzab Allah sebagaimana dia pun ingin dirinya terselamatkan dari adzab Allah.

Sikap yang demikian, bukan muncul dari pendapat, analisa, maupun perasaan, namun ditegakkan di atas hujjah, ditegakkan di atas bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan salaful ummah. Lihat pula pembahasan tentang prinsip ini pada tulisan berjudul : “KENAPA SIH KOK BICARANYA KASAR…?”

Menebar keangkuhan menuai kehinaan


Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:


وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ


“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 1

Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)

Pada ayat yang lain Allah k melarang pula:

وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ طُوْلاً
“Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)

Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 45

Kehinaan. Inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.

‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَل


“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)

Bahkan seorang yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah k. Demikian yang kita dapati dari Rasulullah n, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar c:

مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَان

“Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah k dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy- Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)

Kesombongan (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah k dan merendahkan hamba-hamba Allah k. Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah n tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c, “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau n menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau n menjawab:


Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sabtu, 10 Januari 2009


RADIO HANG

radionya kaum muslimin kota Batam....radio hang ini satu-satunya radio yang ngak ada music
nya sama sekali...... klu anda ingin dengar lansung aja anda buka tu radio anda di frefekunsi 106 yang anda dengar lantunan-lantunan ayat suci al-qur'an yang sangat indah suara nya..... dan anda juga bisa dengar ceramah kajian yang menyanpaikan Ust-ust lulusan madinah....
oooya anda juga bisa dengar di internet lho?? klik aja radio hang di blog aq ini.....

gambar ini sangat indah seperti sorga yang rosul ceritakan..
mungkinkah sorga itu seperti ini???
kita ngak tau... ada ingin sorga???? belilah sorga dengan harta anda........